Ibu Hamil Kembar Positif Covid-19 dan Caraku Survive
Berawal dari rasa-rasa luar biasa yang dirasakan ibu hamil tua seperti; sesak nafas, lambung terasa sempit, sakit punggung belakang dan pinggang, perut terasa berat membawa beban dua janin serta rasa tidak enak lainnya kemudian membuat aku jadi tidak nafsu makan dan enggan untuk mengkonsumsi vitamin hamil. Vitamin hamil yang mengandung asam folat dan DHA membuat perut terasa mual. Semua itu mengakibatkan aku jatuh sakit dengan keluhan awal demam dan badan terasa lemas sekali.
| Si Kembar saat usia 8 minggu kehamilan |
Karna masih dalam keadaan pandemi Covid-19, aku berusaha meminimalisir pergi keluar rumah juga Rumah Sakit (RS), atas bantuan Bidan aku mendapat perawatan Infused di rumah dan diberi obat demam. Setelah tiga hari dirasa tidak ada perubahan bahkan bertambah keluhan yang aku rasakan seperti batuk berdahak berwarna kuning pekat akhirnya, aku memutuskan untuk pergi berobat ke RSIA tempat biasa aku rutin periksa kehamilan. Begitu sampai di IGD, perutku terasa mual hebat kemudian muntah sebanyak dua kali. Sesuai protokoll kesehatan RSIA, aku melakukan tindakan test swab PCR dan diperiksa darah sewaktu.
Qadarullah..
hasilnya aku positif covid-19 dan gejala thypus. Dokter obgyn di IGD meresepkan
obat batuk khusus ibu hamil serta beragam macam vitamin dan mengharuskan aku
isolasi secara mandiri. Dengan ucapan sedikit menenangkan "ibu harus fokus
untuk negatif dari covid-19. Janin kembar InshaAllah sehat kuat, karna
sejauh ini belum ada kisah janin di perut yang ikut terpapar virus corona dari
sang ibu"
Bagiku, isolasi mandiri adalah hal paling sulit
dan berat, karna harus terpisah dengan suami dan anak meskipun hanya sementara.
Aku galau, down dan sedih sesedih-sedihnya.
"Kok bisa ya aku positif covid-19 sendirian?
Padahal aku dan keluarga di rumah mematuhi protokol kesehatan dan dalam
seminggu terakhir aku tidak keluar rumah".
"Bagaimana kondisi janin kembarku?".
"Bagaimana jika tiba-tiba aku merasakan
kontraksi dan mengharuskan persalinan darurat di usia kehamilan yang belum
matang dalam kondisi positif covid-19?"
"Katanya biaya persalinan ibu hamil yang
positif covid-19 mencapai 100 juta rupiah, uang dari mana?".
"Bagaimana si sulung? Rewel tidak ya, jika tidur
bukan di pelukanku?".
Begitu banyak pertanyaan dan kemungkinan pahit
hadir dalam fikiranku saat itu yang membuat mental semakin down. Selama
isolasi mandiri selain menjalankan semua anjuran Dokter, aku maksimalkan untuk
interopeksi diri dan beribadah kepada Allah SWT memohon ampunan serta
pertolongan.Sebab hanya kepada-Nya lah tempat meminta rahmah dan
pertolongan.
Kemudian setelah 17 hari menjalani masa sulit
isolasi mandiri dibantu support dari suami, keluarga dan kerabat dekat, aku
melakukan test swab PCR lagi. Alhamdulillah kali ini hasilnya negatif. Spontan
suamiku datang lalu memelukku. Kami berpelukan bak teletubbies dan menangis
haru. Akhirnya kami mampu melewati masa sulit ini. Berselang 3 hari aku
menjalanin persalinan operasi Caesar kemudian lahirlah si kembar di usia matang
37 minggu dengan berat badan yang cukup untuk bayi kembar serta dalam keadaan
sehat.
Dari kisahku, semoga kita semua khususnya ibu
hamil bisa lebih perhatian terhadap protokol kesehatan terutama saat pandemi
seperti ini. Semoga pandemi ini segera berakhir. Stay healthy and safe
everyone
penulis; Akfini Bifadlika
IG @Akfinii_
Comments
Post a Comment